Indonesia mengincar alokasi spektrum baru untuk jaringan 6G masa depan

Indonesia mengincar alokasi spektrum baru untuk jaringan 6G masa depan

Jakarta (ANTARA) – Kementerian Komunikasi dan Informatika telah menyatakan bahwa Indonesia memerlukan spektrum frekuensi tambahan untuk mendukung pengembangan teknologi jaringan seluler 6G di masa depan.

“Kita harus melepaskan frekuensi baru. Mengandalkan frekuensi yang ada tidak akan cukup,” kata Adis Alifiawan, Direktur Spektrum Frekuensi Radio, Orbit Satelit, dan Standarisasi Infrastruktur Digital kementerian tersebut.

Berbicara dalam sebuah diskusi panel dengan Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) di Jakarta pada hari Kamis, Alifiawan mencatat bahwa kapasitas spektrum seluler Indonesia diproyeksikan mencapai sekitar 712 MHz setelah lelang yang akan datang untuk pita frekuensi 700 MHz dan 2.6 GHz.

Namun, karena penerapan 6G di masa depan akan membutuhkan bandwidth yang jauh lebih besar, spektrum yang tersedia saat ini dianggap tidak mencukupi, sehingga memerlukan persiapan pita tambahan.

Alifiawan memperkirakan bahwa setiap operator telekomunikasi akan memerlukan sekitar 200 MHz spektrum untuk menjalankan layanan 6G secara optimal.

Sebaliknya, blok frekuensi tunggal terbesar yang saat ini tersedia melalui proses lelang yang akan datang hanya menawarkan sekitar 190 MHz.

Ia menambahkan bahwa frekuensi mid-band tetap menjadi salah satu opsi yang paling menjanjikan untuk 6G, karena menyediakan keseimbangan ideal antara kapasitas jaringan dan area cakupan.

Meski begitu, kementerian masih meninjau berbagai alternatif spektrum, termasuk pita 6 GHz atas.

Pita frekuensi tinggi ini merupakan salah satu kandidat utama untuk layanan 6G yang sedang dibahas secara global menjelang Konferensi Radiokomunikasi Dunia (WRC) 2027.

Alifiawan menyatakan bahwa pemerintah tetap terbuka untuk diskusi dengan pelaku industri, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya untuk mengumpulkan masukan tentang alokasi spektrum, memastikan bahwa hal itu memberikan manfaat ekonomi dan sosial maksimum.

Proses kolaboratif ini, tambahnya, sangat penting untuk menyelaraskan kebijakan spektrum dengan kebutuhan industri, kemajuan teknologi, dan kepentingan publik.

“Kami berharap untuk menerima pandangan dan masukan yang beragam untuk pertimbangan kami, terutama mengenai nilai publik yang diciptakannya,” ujarnya.

Penerjemah: Farhan Arda, Raka Adji
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Copyright © ANTARA 2026



Sumber

Tagged

About Aditya Pranawa

Aditya Pranawa berfokus pada pemberitaan politik dan isu nasional, mencakup kebijakan pemerintah, dinamika politik, parlemen, serta peristiwa penting yang berdampak pada masyarakat luas.

View all posts by Aditya Pranawa →