Ekonom sebut rupiah mencapai Rp17.500 akibat tekanan global dan domestik

Ekonom sebut rupiah mencapai Rp17.500 akibat tekanan global dan domestik

rentetan risiko global ditambah lagi ada penilaian ataupun peringatan dari lembaga internasional terhadap Indonesia, sehingga ini memberikan dampak yang cukup masif

Kenaikan harga minyak menimbulkan kekhawatiran pasar karena dapat meningkatkan beban impor dan mengganggu stabilitas fiskal nasional. Sementara itu, penguatan dolar AS mendorong keluarnya arus modal asing.Pada tinjauan kali ini, MSCI menerapkan kriteria yang lebih ketat terkait High Shareholding Concentration (HSC) atau konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi. Kebijakan ini dinilai berdampak pada sejumlah saham berkapitalisasi besar di Indonesia yang memiliki free float terbatas dan mungkin mengalami penyesuaian bobot indeks.Pewarta: Bayu SaputraEditor: Faisal YuniantoCopyright © ANTARA 2026Meski demikian, Josua menegaskan bahwa kondisi pelemahan rupiah saat ini tidak dapat disamakan dengan krisis moneter tahun 1997-1998. Fundamental ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih kuat baik dari sisi cadangan devisa maupun posisi utang luar negeri pemerintah.

Sumber

Selain itu, Josua menambahkan, penurunan prospek peringkat kredit Indonesia oleh Moody’s Ratings dan Fitch Ratings pada awal tahun juga memengaruhi minat risiko (risk appetite) investor global terhadap pasar saham dan obligasi domestik.Jakarta (ANTARA) – Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengungkapkan bahwa melemahnya nilai tukar rupiah hingga mencapai Rp17.500 per dolar AS pada hari Selasa dipicu oleh kombinasi faktor global dan lokal.Situasi tersebut membuat investor lebih memilih untuk berhati-hati dalam menempatkan uang mereka pada aset-aset berdenominasi rupiah.MSCI akan mengumumkan hasil tinjauan berkala terhadap berbagai indeks global, termasuk saham-saham Indonesia yang masuk atau keluar dari indeks tersebut.Baca juga: Puan minta pemerintah atasi rupiah yang sentuh Rp17.503 per dolar ASDilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.Josua menjabarkan bahwa dari sisi global, peningkatan harga minyak dunia serta penguatan dolar AS yang dipicu oleh konflik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi penyebab utama tekanan terhadap rupiah. Indonesia, yang sangat bergantung pada impor energi, lebih rentan terhadap kenaikan harga minyak dan pergerakan modal asing.Baca juga: CIO Danantara: Pelemahan IHSG lebih dipengaruhi rupiahBaca juga: BI: Cadev turun ke 146,2 miliar dolar AS di tengah stabilisasi rupiah“Dampak dari dua faktor ini terhadap ekonomi kita relatif lebih besar dibandingkan negara lain, sehingga pengaruhnya terhadap nilai tukar rupiah kita pun lebih cepat,” kata Josua dalam acara PIER Economic Review Kuartal I 2026 yang digelar secara virtual di Jakarta, Selasa.Josua juga memandang, rupiah secara riil masih berada dalam kondisi undervalued atau di bawah nilai wajarnya. Artinya, pelemahan nominal rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi sentimen jangka pendek dibandingkan persoalan fundamental ekonomi.Di sisi domestik, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh penantian hasil MSCI Index Review periode Mei 2026, yang akan diumumkan pada Selasa waktu New York atau Rabu waktu Indonesia.

Karena itu, ke depan stabilitas rupiah akan sangat bergantung pada perkembangan konflik geopolitik global serta respons kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia. Ia memperkirakan ruang penurunan suku bunga acuan kini semakin terbatas karena prioritas utama tetap menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.


“Kita bisa lihat bahwa rentetan risiko global ditambah lagi ada penilaian ataupun peringatan dari lembaga internasional terhadap Indonesia, sehingga ini memberikan dampak yang cukup masif terhadap risk appetite investor asing, khususnya terhadap aset-aset berdenominasi rupiah kita,” ujarnya.

Tagged

About Dewi Anggraini

Dewi Anggraini meliput isu ekonomi dan bisnis, menghadirkan informasi seputar pasar, keuangan, investasi, serta perkembangan dunia usaha secara ringkas, faktual, dan mudah dipahami.

View all posts by Dewi Anggraini →