
Jakarta (ANTARA) – Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia, Ahmad Muzani, menandakan kemungkinan Indonesia menarik diri dari Dewan Perdamaian (BoP) setelah bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto di sini pada hari Rabu.
Muzani mengatakan bahwa kemungkinan untuk meninggalkan BoP telah disampaikan beberapa kali oleh Presiden Prabowo.
“Bagi Indonesia, partisipasi dalam dan penarikan dari BoP adalah sesuatu yang bisa terjadi, seperti yang telah disebutkan oleh Presiden beberapa kali,” kata Muzani, menjawab pertanyaan para wartawan di Istana setelah bertemu dengan Presiden Prabowo.
“Kita bisa meninggalkan (BoP) kapan saja, tetapi sekali lagi, harus dengan kesepakatan bersama,” tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Muzani menjelaskan bahwa Indonesia bergabung dengan BoP karena diyakini bahwa lembaga tersebut dapat mempercepat proses menuju Palestina yang merdeka.
Namun, ia menjelaskan bahwa serangan sepihak yang dilakukan oleh Amerika Serikat, sebagai penggagas BoP, dan Israel Zionis, yang juga merupakan anggota BoP, terhadap Iran, mendorong Indonesia untuk mengevaluasi kembali peran BoP.
“BoP adalah bagian dari upaya untuk mempercepat proses kemerdekaan Palestina, serta pembangunan, rekonstruksi, dan rehabilitasi Palestina. Itulah tujuan utama pendirian BoP,” kata Muzani.
“Namun, serangan AS dan Israel terhadap Iran telah menjelaskan bahwa (Presiden) mungkin akan mengevaluasi kembali keanggotaan Indonesia dalam BoP,” tambahnya.
Pertemuan pada Selasa malam (3/3) merujuk pada diskusi nasional di Istana Merdeka, yang dihadiri oleh sejumlah tokoh.
Beberapa tokoh tersebut termasuk Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Presiden ke-7 Joko Widodo, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla, Wakil Presiden ke-11 Boediono, dan Wakil Presiden ke-13 Ma’ruf Amin.
Pertemuan ini juga dihadiri oleh sejumlah mantan menteri luar negeri, pemimpin partai politik, dan pejabat negara, serta menteri kabinet Merah Putih.
“Presiden menjelaskan secara rinci isu-isu yang ia pahami dan akrabi terkait situasi global. Hampir semua pemimpin menyampaikan pandangan mereka. Beberapa mengajukan pertanyaan, dan yang lain membagikan pandangan mereka,” katanya.
“Presiden Jokowi, Presiden SBY, mantan Wakil Presiden Ma’ruf Amin, dan beberapa mantan menteri luar negeri juga menyampaikan pandangan mereka.”
“Beberapa menawarkan pandangan kritis, beberapa menawarkan saran, dan yang lain membagikan pemikiran mereka. Semua pandangan ini diterima dengan baik oleh Presiden,” tambahnya.
Ia mengatakan bahwa proposal, saran, dan pemikiran yang disampaikan oleh tokoh-tokoh tersebut akan menjadi masukan bagi Presiden Prabowo dalam mengambil keputusan dan merumuskan kebijakan di masa depan.
Berita terkait: Prabowo dan tokoh nasional membahas dampak Timur Tengah pada BoP
Berita terkait: Raja Yordania memuji Presiden Prabowo tentang sikap Palestina
Berita terkait: Prabowo mengonfirmasi kesepakatan perdagangan yang saling menguntungkan dengan Trump
Penerjemah: Genta Tenri Mawangi, Andi Firdaus, Katriana
Editor: Azis Kurmala
Hak Cipta © ANTARA 2026
