Indonesia mengandalkan universitas dan industri untuk dorongan energi dari limbah

Indonesia mengandalkan universitas dan industri untuk dorongan energi dari limbah

Jakarta (ANTARA) – Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Indonesia telah menegaskan komitmennya untuk merangkul dan memberdayakan universitas dan pelaku industri dalam mengembangkan pembangkit listrik berbasis limbah (WtE).

Menteri Pendidikan Tinggi Brian Yuliarto menyampaikan sikap ini dalam sebuah pertemuan dengan perwakilan dari universitas luar negeri, Institut Teknologi Bandung (ITB), dan PT Rekayasa Industri, yang merupakan perusahaan teknik milik negara, di Jakarta pada hari Selasa (24 Feb).

“Penting bagi kita untuk merancang proyek WtE berdasarkan perhitungan yang jelas dan terukur dalam hal kapasitas, biaya, dan keberlanjutan,” katanya dalam pernyataan yang dikeluarkan pada hari Kamis.

Yuliarto menekankan perlunya merumuskan pendekatan ilmiah yang didasarkan pada studi teknis yang komprehensif untuk mengidentifikasi solusi efektif untuk manajemen limbah dan energi sambil mempertimbangkan aspek ekonomi dan lingkungan.

Menteri tersebut menekankan perlunya memperkuat peran pendidikan tinggi dan lembaga penelitian dalam merumuskan model manajemen limbah terintegrasi. Ia juga mendukung skema yang menggabungkan manajemen mikro di tingkat komunitas dengan fasilitas terpusat untuk implementasi yang lebih luas.

Ia berargumen bahwa pendekatan semacam itu dapat mengurangi mobilitas limbah, mendukung fasilitas bahan bakar yang berasal dari limbah (RDF), dan meningkatkan kontrol kualitas serta langkah-langkah dampak lingkungan.

Diskusi pada hari Selasa menyoroti temuan bahwa limbah organik menyumbang sekitar 55 persen dari total limbah yang dihasilkan. Hal ini memerlukan inisiatif di tingkat rumah tangga dan komunitas untuk meringankan beban transportasi dan mengurangi volume di fasilitas pembuangan akhir.

Model ini diharapkan dapat memberikan kesempatan bagi perguruan tinggi untuk berkontribusi melalui perhitungan berbasis data tentang kapasitas ideal, tipologi regional, dan efisiensi logistik. Tujuannya adalah merancang sistem yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing daerah.

Mengingat peran sentral RDF dalam proyek WtE, Kementerian Pendidikan Tinggi mendorong penelitian domestik yang lebih kuat dan inovasi teknologi untuk memastikan bahwa desain pabrik, sistem pembakaran, dan kontrol emisi memenuhi standar RDF nasional.

Berita terkait: Dari limbah plastik menjadi bahan bakar, Bali tingkatkan upaya energi berkelanjutan

Berita terkait: Indonesia akan memulai 34 proyek pembangkit listrik berbasis limbah, kata Prabowo

Penerjemah: Sean Filo, Tegar Nurfitra
Editor: Arie Novarina
Copyright © ANTARA 2026



Sumber

About Aditya Pranawa

Aditya Pranawa berfokus pada pemberitaan politik dan isu nasional, mencakup kebijakan pemerintah, dinamika politik, parlemen, serta peristiwa penting yang berdampak pada masyarakat luas.

View all posts by Aditya Pranawa →